Type something and hit enter

Posted by On

Materi Bindo akan membagikan artikel tentang Dialog yang meliputi pengertian Dialog, fungsi, ciri-ciri, syarat-syarat dan contohnya.


Dialog adalah bentuk komunikasi antara dua orang atau lebih yang melibatkan pertukaran pesan, gagasan, informasi, atau emosi. 


Dalam konteks sastra, dialog adalah cara penulis menggambarkan percakapan antara karakter-karakter dalam karya tulis, seperti cerita, novel, atau drama. Dialog dalam sastra membantu mengembangkan karakter, memperlihatkan konflik, mengungkapkan emosi, dan memajukan alur cerita.


Kata "dialog" berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu "διάλογος" (diálogos), yang terbentuk dari dua elemen: "διά" (diá), yang berarti "melalui" atau "melalui perantara", dan "λόγος" (lógos), yang memiliki arti "kata" atau "bicara". 


Jadi "dialog" dapat diartikan sebagai "bicara melalui perantara" atau "percakapan yang melibatkan kata-kata atau bicara".


Baca juga: Pengertian Prolog: Fungsi dan Contohnya


Pengertian Dialog Menurut Para Ahli

pengertian dialog


M.H. Abrams


Dialog adalah representasi lisan suatu tindakan atau kejadian dalam bahasa yang diucapkan oleh atau ditujukan kepada satu atau lebih karakter dalam karya sastra.


Dia menekankan bahwa dialog berfungsi untuk mengungkapkan karakter, mengembangkan plot, dan menghasilkan konflik yang menarik.


Wayne C. Booth


Dialog dalam karya sastra adalah alat untuk menyampaikan ide-ide dalam gaya yang paling meyakinkan dan menarik.


Aristoteles


Aristoteles menyebutkan bahwa dialog adalah elemen penting dalam drama. Baginya, dialog adalah cara untuk mengungkapkan karakter, mengembangkan plot, dan membawa konflik ke permukaan. Aristoteles juga mengakui pentingnya ritme dan melodi dalam dialog drama.


Roland Barthes


Roland Barthes menganggap dialog sebagai salah satu bentuk teks yang menyampaikan makna melalui struktur bahasa dan tanda-tanda. 


Dia berpendapat bahwa dialog mengandung potensi untuk mengungkapkan kontradiksi dan mendalamkan pemahaman terhadap narasi.


Julia Kristeva


Julia Kristeva melihat dialog sebagai perwujudan dari bahasa sebagai tanda sosial. Baginya, dialog mencerminkan kompleksitas hubungan sosial, serta memungkinkan eksplorasi identitas dan ketidakpastian.


Fungsi Dialog dalam Karya Sastra


  • Pembangunan Karakter: Melalui dialog, pembaca atau penonton dapat lebih memahami karakter-karakter dalam karya sastra. Bahasa yang digunakan, gaya bicara, dan topik percakapan menggambarkan sifat, nilai, dan emosi karakter tersebut.
  • Pengembangan Alur Cerita: Dialog dapat menggerakkan alur cerita dengan memberikan informasi penting, mengenalkan konflik, atau menciptakan perubahan dramatis. Dialog juga dapat berfungsi sebagai bahan pendukung untuk menghubungkan berbagai elemen cerita.
  • Ekspresi Emosi dan Konflik: Melalui dialog, karakter dapat mengekspresikan emosi, perasaan, atau dilema yang mereka hadapi. Dialog juga dapat mengungkapkan konflik antar karakter, baik dalam bentuk perdebatan, candaan, atau ketegangan emosional.
  • Pengantar Tema dan Pesan: Dialog dapat menyampaikan tema utama dan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca atau penonton. Pesan tersebut dapat disampaikan secara langsung maupun melalui metafora dan analogi dalam percakapan.


Ciri-Ciri Dialog:


  • Interaksi: Dialog melibatkan interaksi antara dua individu atau lebih. Partisipan saling berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh untuk menyampaikan pesan.
  • Pertukaran Informasi: Dialog melibatkan pertukaran informasi, gagasan, atau pandangan antara para partisipan. Setiap peserta memberikan tanggapan atau respons terhadap apa yang dikatakan oleh pihak lain.
  • Respon: Setiap pernyataan dalam dialog biasanya diikuti oleh respon dari pihak lain. Ini menciptakan aliran komunikasi yang dinamis dan saling terkait antara peserta.
  • Konteks: Dialog terjadi dalam berbagai konteks, termasuk komunikasi sehari-hari, diskusi ilmiah, seni pertunjukan, sastra, dan lain sebagainya.
  • Tujuan: Dialog bisa memiliki tujuan beragam, seperti menginformasikan, meyakinkan, mendebat, menghibur, atau membangun hubungan interpersonal.

Syarat-Syarat Dialog



  1. Keterbukaan dan Kejujuran: Peserta dialog harus bersedia berbicara dengan jujur dan terbuka. Mereka harus membagikan informasi yang relevan dan memiliki integritas dalam komunikasi.
  2. Keterampilan Mendengarkan: Mendengarkan aktif dan efektif adalah aspek penting dari dialog yang berhasil. Peserta harus dapat memahami dengan baik apa yang dikatakan oleh pihak lain sebelum memberikan tanggapan.
  3. Kesadaran Konteks: Peserta harus memahami konteks dan latar belakang percakapan. Ini membantu mencegah salah tafsir dan memastikan bahwa pesan disampaikan dengan benar.
  4. Ketepatan dan Kepastian: Pesan yang disampaikan harus jelas, tepat, dan tidak ambigu. Penggunaan bahasa yang tepat dan pilihan kata yang cermat membantu mencegah kebingungan.
  5. Empati dan Pengertian: Peserta harus berusaha memahami sudut pandang dan perasaan orang lain. Kemampuan untuk merasakan emosi dan memahami perspektif orang lain meningkatkan kualitas dialog.
  6. Kontrol Emosi: Peserta harus mampu mengendalikan emosi mereka sendiri selama dialog. Terlalu banyak emosi negatif atau respons emosional berlebihan dapat mengganggu proses komunikasi.
  7. Pertukaran yang Seimbang: Dialog yang efektif melibatkan pertukaran informasi yang seimbang antara peserta. Tidak boleh ada dominasi satu pihak yang berbicara tanpa memberikan kesempatan bagi yang lain.
  8. Fokus pada Solusi: Jika dialog melibatkan perdebatan atau konflik, peserta harus berusaha untuk mencapai solusi atau pemahaman bersama daripada sekadar menang atau kalah.
  9. Respek terhadap Waktu dan Kesempatan: Peserta harus menghormati waktu dan kesempatan satu sama lain. Mereka harus memberikan ruang bagi pihak lain untuk berbicara dan mendengarkan dengan saksama.
  10. Kepatuhan pada Etika Komunikasi: Peserta harus mengikuti norma-norma etika komunikasi yang umumnya diterima dalam masyarakat. Ini termasuk menghindari penggunaan bahasa kasar, serangan pribadi, dan perilaku yang tidak pantas.


Aturan Menulis Dialog yang Efektif


Berikut adalah beberapa aturan menulis dialog yang efektif, disertai dengan contoh untuk masing-masing aturan:


Tanda Kutip: Gunakan tanda kutip ("...") untuk mengapit ucapan karakter dalam dialog.

Contoh: "Aku pikir kita sebaiknya pergi ke taman besok," ujar Lisa.


Indentasi Baris: Jarakkan baris dialog dengan merentangkan atau memberikan indentasi pada awal setiap ucapan karakter.

Contoh:

Lisa mengangguk. "Sangat baik, saya setuju."

Kevin tersenyum. "Aku juga senang dengan ide itu."


Deskripsikan Tindakan: Gabungkan deskripsi tindakan atau gerakan karakter dengan dialog untuk memberikan lebih banyak konteks.

Contoh: Lisa mengangguk. "Sangat baik, saya setuju. Mungkin kita bisa membawa bekal untuk piknik."


Gunakan Variasi Ucapan: Berikan variasi dalam cara karakter berbicara, sesuai dengan kepribadian mereka.

Contoh:

Lisa berbicara bersemangat, "Ayo, kita piknik!"

Kevin berkata tenang, "Tentu saja, itu rencana yang bagus."


Pertahankan Keaslian: Gunakan bahasa yang konsisten dengan latar belakang, usia, dan kepribadian masing-masing karakter.

Contoh: "Jadi, kamu mau pergi ke konser musik malam ini?" tanya Sarah kepada Alex.


Hindari Informasi Tumpang Tindih: Jangan mengulangi informasi yang sudah disampaikan melalui narasi atau dialog sebelumnya.

Contoh: Lisa mengangguk. "Sangat baik, saya setuju. Mungkin kita bisa membawa bekal untuk piknik."


Pendengaran yang Realistis: Dialog harus terdengar alami dan sesuai dengan cara orang berbicara sehari-hari.

Contoh: "Apa kamu sudah makan?" tanya ibu kepada anaknya.


Ciptakan Ketegangan: Gunakan dialog untuk menciptakan ketegangan atau konflik antara karakter.

Contoh: "Apa kamu yakin ini keputusan yang tepat?" tanya Ryan dengan nada ragu.


Singkat dan Padat: Hindari monolog panjang dalam dialog. Gunakan kalimat singkat dan padat.

Contoh: "Kapan kamu kembali?" tanya Lisa sambil menatap jam di dinding.


Subteks dan Makna Tersirat: Gunakan subteks dan makna tersirat dalam dialog untuk mendalamkan karakter atau hubungan.

Contoh: "Tentu saja, kamu selalu tahu bagaimana membuat orang tertawa," kata Julia sambil tersenyum kepada David.


Revisi dan Edit: Setelah menulis dialog, lakukan revisi dan edit untuk memastikan kelancaran dan kejelasan.

Contoh: "Apakah kamu ingin makan siang bersama?" tanya Kevin kepada Lisa.


Langkah-langkah Menulis Dialog yang Baik dan Benar


Menulis dialog yang baik dan benar membutuhkan perhatian terhadap beberapa langkah yang spesifik. Berikut adalah langkah-langkah untuk menulis dialog yang efektif:

  1. Pahami Karakter: Sebelum mulai menulis dialog, pahami karakter-karakter yang akan berbicara. Ketahui kepribadian, latar belakang, dan cara berbicara masing-masing karakter agar dialog terdengar konsisten dan autentik.
  2. Tentukan Tujuan Dialog: Pahami tujuan dari setiap dialog. Apakah dialog bertujuan mengembangkan karakter, memajukan alur cerita, atau menyampaikan informasi penting?
  3. Rencanakan Struktur: Tentukan struktur dialog dengan jelas. Identifikasi siapa yang akan berbicara terlebih dahulu, bagaimana pertukaran respon terjadi, dan kapan dialog selesai.
  4. Gunakan Tanda Kutip: Mulailah setiap ucapan karakter dengan tanda kutip ("..."). Ini membantu pembaca atau penonton membedakan antara dialog dan narasi.
  5. Indentasi Baris: Jarakkan baris dialog dengan memberikan indentasi pada awal setiap ucapan karakter. Ini membantu memisahkan antara ucapan karakter yang berbeda.
  6. Gabungkan Deskripsi: Deskripsikan tindakan atau gerakan karakter ketika mereka berbicara. Ini memberikan konteks tambahan dan membantu membayangkan interaksi fisik.
  7. Pertahankan Keaslian: Pastikan dialog sesuai dengan karakter. Gunakan bahasa dan gaya bicara yang sesuai dengan latar belakang dan kepribadian mereka.
  8. Hindari Informasi Tumpang Tindih: Jangan ulangi informasi yang sudah ada dalam narasi. Gunakan dialog untuk menyampaikan informasi yang belum diungkapkan sebelumnya.
  9. Variasi Ucapan: Berikan variasi dalam gaya berbicara, pilihan kata, dan struktur kalimat karakter. Ini membantu membuat dialog lebih dinamis dan menggambarkan perbedaan kepribadian.
  10. Gunakan Makna Tersirat: Gunakan makna tersirat dan subteks untuk menambah kedalaman dialog. Ini bisa berupa apa yang tidak diucapkan atau melalui perbedaan antara ucapan dan perasaan karakter.
  11. Perhatikan Kelancaran: Pastikan dialog mengalir dengan lancar dan mudah dipahami. Hindari kalimat atau percakapan yang terlalu rumit atau membingungkan.
  12. Ciptakan Ketegangan dan Konflik: Gunakan dialog untuk menciptakan ketegangan atau konflik yang memperkaya alur cerita.
  13. Revisi dan Edit: Setelah menulis dialog, lakukan revisi untuk memastikan kelancaran, kejelasan, dan efektivitas.
  14. Bacakan Ulang: Setelah selesai menulis, bacakan dialog dengan suara keras. Ini membantu mengidentifikasi apakah dialog terdengar alami dan sesuai.
  15. Dapatkan Umpan Balik: Berikan dialog kepada pembaca atau rekan penulis untuk mendapatkan umpan balik. Pandangan orang lain dapat membantu mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki.
  16. Praktik Terus-Menerus: Menulis dialog adalah keterampilan yang dapat diasah. Teruslah berlatih dan perbaiki diri seiring waktu.


Contoh Dialog Dua Orang: Pertemuan Teman Lama


A: Hai, lama tidak jumpa! Bagaimana kabarmu?


B: Halo! Kabarku baik-baik saja, bagaimana denganmu?


A: Aku juga baik. Sudah lama sekali kita tidak berbicara.


B: Ya, betul. Aku sangat sibuk dengan pekerjaan dan keluarga.


A: Aku juga merasa begitu. Sepertinya waktu berlalu begitu cepat.


B: Iya, kita harus mencoba untuk bertemu lebih sering.


Contoh Dialog Tiga Orang: Rencana Liburan


A: Hei, apa kabar kalian berdua?


B: Hai! Kami baik-baik saja. Sedang merencanakan liburan nanti.


C: Benar, kami berencana pergi ke pantai selama akhir pekan.


A: Itu kedengarannya sangat menyenangkan! Saya ingin bergabung.


B: Tentu saja, kami senang jika kamu ikut!


C: Ya, pasti seru jika semuanya bisa ikut.


Contoh Dialog Empat Orang: Diskusi Proyek Tim


A: Mari kita mulai diskusi tentang proyek baru ini. Apa rencana awal kita?


B: Pertama, kita perlu membuat rencana kerja terperinci.


C: Setuju. Setelah itu, kita akan membagi tugas masing-masing.


D: Ya, dan saya akan mengurus bagian penelitian dan pengumpulan data.


A: Bagus. Saya akan fokus pada perancangan visual dan presentasi.


B: Sementara itu, saya akan merancang jadwal pelaksanaan.


C: Jadi, kita sepakat untuk memulai dengan rencana ini?


D: Iya, mari kita kerjakan bersama-sama!


Baca juga: Pengertian Epilog: Fungsi, Ciri dan Contohnya


Demikianlahlah artikel tentang materi Dialog, meliputi pengertian dialog, fungsi, ciri-ciri, syarat-syarat dan contohnya. Semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih.

0 comments